Nama Mahasiswa       : Zaini Akbar

Nim                             : 12401005

Semester/Kelas           : 2 / 2A

Prodi                           : Pendidikan Agama Islam (PAI)

Mata Kuliah                : Filsafat Pendidikan Islam

Dosen pengampu        : Dr. Syamsul Kurniawan, M,Si

                                      Khairunnisyah, M,Pd

 

 

Strategi Pendidikan dalam Kaca Mata Filsafat Islam: Menyatukan Ilmu dan Iman

Pendidikan dalam Islam bukanlah sekadar menumpuk pengetahuan di dalam kepala. Ia lebih dalam daripada itu mengarahkan seluruh jiwa agar memahami makna keberadaan, mengenali Sang Pencipta, dan menata hidup sesuai petunjuk-Nya. Dalam kaca mata filsafat Islam, pendidikan sejati adalah proses yang memadukan ilmu dengan iman, mengikat akal dan hati dalam satu simpul kokoh yang akan membimbing manusia menuju kebahagiaan hakiki.

Mengapa ilmu dan iman harus di padukan dalam pendidikan islam?

Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa ilmu tanpa iman akan menyesatkan, sedangkan iman tanpa ilmu dapat terombang-ambing oleh hawa nafsu (Al-Ghazali, 2000). Oleh sebab itu, strategi pendidikan Islam dirancang agar keduanya tumbuh beriringan. Setiap ilmu yang diajarkan bukan hanya untuk kepentingan dunia, tetapi juga untuk menambah rasa tunduk kepada Allah. Inilah yang membedakan pendidikan Islam dengan sekadar transfer pengetahuan teknis.

Dalam praksisnya, para ulama membangun metode yang halus namun dalam. An-Nahlawi (1984) menguraikan bahwa strategi pendidikan Islam memadukan beberapa unsur: mengajarkan konsep rasional (fikr), membersihkan hati (tazkiyah), menanamkan akhlak (akhlaqiyyah), dan menumbuhkan cinta kepada Allah (mahabah). Dengan demikian, peserta didik tidak hanya cerdas berpikir, tapi juga lembut hatinya.

Bagaimana strategi pendidikan islam ini dapat kita terapkan di lembaga pendidikan?

Strategi ini sudah diterapkan bahkan sudah  kita temukan dalam keseharian pesantren maupun ma’had, termasuk di IAIN Pontianak. Di sana, mahasiswa tidak hanya disibukkan dengan kuliah akademik, tetapi juga dibina melalui halaqah Qur’an, kajian tafsir, diskusi fikih, hingga program bakti sosial. Kegiatan-kegiatan ini sejatinya adalah jembatan antara ilmu dan iman mereka belajar untuk berpikir kritis, sekaligus merasakan langsung tanggung jawab sosial dan spiritual

Secara filosofis, pendidikan Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki dimensi lahir dan batin. Oleh sebab itu, setiap strategi pendidikan mesti memperhatikan dua sisi ini. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah:11). Ayat ini menjadi penegasan bahwa iman dan ilmu adalah dua tangga yang akan mengangkat manusia menuju derajat yang mulia. Strategi pendidikan dalam Islam karenanya tidak memisahkan akal dari hati, tetapi justru menuntun keduanya berjalan beriringan.

Dalam penelitian yang dilakukan Jannah (2018), strategi pendidikan Islam yang integrative menggabungkan ilmu pengetahuan umum dengan pembinaan keimanan terbukti lebih efektif dalam membentuk kepribadian yang berakhlak mulia. Ini karena peserta didik tidak hanya sibuk mengejar prestasi duniawi, tetapi juga sadar akan tujuan hidup yang lebih tinggi.

Rasulullah Saw sendiri telah menunjukkan strategi ini dalam dakwah dan tarbiyah beliau. Beliau tidak hanya memberi tahu tentang halal dan haram, tapi juga menumbuhkan rasa takut akan siksa Allah dan rindunya manusia pada surga. Hadis riwayat Tirmidzi menyebutkan, “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Dari sini kita memahami bahwa pendidikan Islam sejati adalah membentuk manusia yang utuh, baik ilmu maupun akhlaknya.

Kalau kita melihat dengan lensa filsafat Islam, maka pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sesuai fitrahnya. Al-Abrasyi (1981) menulis, tugas pendidikan bukan hanya mencetak pekerja yang ahli di bidangnya, tetapi mencetak hamba yang mengenal Tuhannya. Strategi pendidikan yang Islami karenanya akan selalu memasukkan nilai tauhid, mengingatkan bahwa ilmu hanyalah alat untuk semakin mengenal Allah, bukan untuk membanggakan diri.

Lewat proses panjang ini, pendidikan Islam ingin melahirkan manusia yang berpikir tajam tapi hatinya lembut, yang berpengetahuan luas tapi rendah hati. Mereka inilah yang akan membawa keseimbangan di muka bumi, menjadi cahaya bagi sekelilingnya. Dan ketika ilmu berpadu dengan iman, maka jadilah ia pelita yang tidak hanya menerangi diri sendiri, tetapi juga menjadi lentera bagi banyak hati yang masih gelap.

 

 

Referensi

Al-Abrasyi, A. (1981). Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Al-Ghazali, A. H. (2000). Ihya’ Ulumuddin (Terj.). Beirut: Dar al-Fikr.

An-Nahlawi, A. (1984). Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha fi al-Baiti wa al-Madrasati wa al-Mujtama’. Damaskus: Dar al-Fikr.

Jannah, M. (2018). Metode Pendidikan Islam dalam Membentuk Kepribadian Anak. Tarbiyah Islamiyah: Jurnal Pendidikan Islam, 5(2), 112–125.

 

 

Comments